Untuk Ricoh

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama..

Beberapa hari lalu seorang kawan telah mendahului kami kawan2 seperjuangan di bangku kuliah.. Ya di usia yang bahkan belum menginjak kepala tiga, Allah memanggilnya untuk melepaskan penderitaan sakit demam berdarah..

Panggil saya Ricoh, Sanusi bukan nama keluarga.. Judul blognya yang sederhana namun mengena.. Ico, demikian panggilan saya dan kawan kawan kepada pemuda berperawakan kecil itu..

"kenapa orang baik jarang terlihat? Karena kebaikan itu bukan untuk dipamerkan" ~@tupicz, 2012~

Pemuda kelahiran Klaten itu membuktikan ucapan seorang kawannya.. Dibalik sosoknya yang sederhana, ternyata ada segudang kebaikan yang tersimpan.. Dan hal itu terungkap oleh kawan-kawannya setelah kepergiannya..

"dia selalu menyisihkan 20% rizkinya tiap bulan ke rumah zakat" ~@mmmeiskha~
"Payroll.. Pembagian ke yang berhak, done.. Begitulah twit @ricohsanusi tiap bulan" ~@ariedekno~

Impian mulia lain dari penunggang Yamaha Vega merah plat AD itu adalah membuat perpustakaan gratis dengan kebun sebagai ruang bacanya. Akun @bacadikebun dan kumpulan koleksi buku di kamar kosnya merupakan langkah awalnya.. Entah, apakah impiannya itu akan terwujud kelak..

Wanita berjilbab, berkacamata dan berlesung pipi.. Sosok yang diimpikannya untuk menjadi pendamping hidupnya.. Bidadari yang belum sempat mendampingimu di dunia, namun akan mendampingimu di alam terindah..

Selamat jalan kawan.. Kau telah mendapat tempat terindahmu..

Maaf

Pengkhianat!

Ya label itulah yang sempat aku sematkan kepadanya karena perlakuannya kepadaku.. Aku sendiri tidak pernah bisa mendefinisikan arti kata pengkhianat.. Namun ketika aku merasa dikhianati, saat itulah label itu kusematkan..

Balas dendam? Tidak..
Balas mengkhianati? Tidak..
Atau membunuhnya? Tidak pula..
Aku tidak melakukan itu semua.. Hanya satu hal yang aku lakukan.. Tidak pernah menanggapnya ada.. Itu saja..

Setahun..

Dua tahun..

Tiga tahun..

Sampai tak terhitung lagi..

Hingga suatu saat, pesan yang kuterima meluruhkan api itu.. Sadar atau tidak, pesan itupun terbalas.. Label pengkhianat pun terkelupas seiring waktu berjalan..

Itukah yang disebut maaf? Bisa jadi.. Sama seperti pengkhianat yang tidak bisa aku definisikan.. Kata maaf tak pernah terucap dari bibir ini.. Namun bara api yang telah padam lebih dari cukup untuk mendefinisikan maaf..

Maaf itu bukan untukmu, bukan pula untuknya.. hanya untukku sendiri.. Maaf yang telah memadamkan bara apiku sendiri..

Dan melalui tulisan ini, aku ingin berucap,

Ya, aku memaafkanmu..